B. Masa Pemerintahan Ki Jayadiwangasa (1817 – 1847)

Sejarah Desa Panulisan - Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, bahwa berhentinya Ki Jagara selaku Kepala Desa yang pertama karena usianya yang telah senja dan kemudian diganti oleh Ki Jayadiwangsa.

Pada saat itu keadaan penduduk semakin bertambah banyak, sehingga diperlukan beberapa orang pembantu demi menunjang kelancaran tugas pemerintahan. Maka diangkatlah Ki Bangsangali sebagai kepala kampong Cilubang yang wilayahnya meliputi Cilubang, Cipondok dan Ciawitali. Sedangkan Ki Narki sebagai kepala kampong Panulisan yang wilayahnya meliputi gerumbul Cirungkun dan Panulisan.

Sedangkan Ki Bangsangali dalam melaksanakan tugasnya menunjuk pula pembantu khusus untuk gerumbul Ciawitali yang letaknya jauh trpencil. Penunjukan ini mengandung maksud agar mudah menguasai daerah serta kelancaran pelayanan terhadap masyarakat. Petugas tersebut bernama Ki Alpiasan, seorang tokoh yang cukup berwibawa dikalangan lingkungannya.

Disamping tokoh-tokoh tersebut, terdapat pula yang lainnya yang membantu kelancaran pemerintahan Ki Bekel, walaupun statusnya merupakan masyarakat biasa, bukan pamong desa.
Ki Raksanangga dan Ki Jagaprana, adalah tokoh legenda berilmu tinggi yang senantiasa diminta bantuannya baik oleh Kepala Desa, maupun oleh para pembesar lainnya dalam berbgai masalah, terutama hal yang menyangkut kekuatan fisik, sehingga muncullah istilah “nyusuk mendung ngala maung, maung ngamuk banteng galak Raksanangga bagianna”. Yang bearti membuat parit membendung sungai, menangkap harimau dan menghadapi harimau mengamuk dan banteng yang ganas, Raksananggalah yang menghadapinya. Begitu terkenalnya Ki Raksanangga dan Ki Jagaprana, sehingga merupakan kebanggaan masyarakat saat itu.

Disamping mereka berdua terdapat pula tokoh yang sangat berpengaruh bernama Ambu (Ni Sekar malati) yang asal usulnya sangat samar sekali. Yang jelas ia dianggap sebagai perempuan desa yang sangat banyak membantu keberhasilan Ki Bekel dalam mellaksanakan pemerintahnnya.

Pada saat meninggal dunia, semua warga Panulisan ikut berduka cita, jenazahnya dimakamkan di Cirungkun tidak jauh dari makam Embah Maya Singa. Menurut cerita pakainnya masih tersimpan baik dicirungkun.

Pada saat pemerintahannya pusat pemerintahan Desa dipindah ke Cilubang. Pada waktu itu umumnya pusat pemerintahan selalu diselenggarakan di rumah kepala desa, karena memang belum ada Balai Desa seperti sekarang ini.

Sedangkan tugas utama kepala desa masa itu, disamping memimpin sejumlah masyarakat, juga berkewajiban untuk memungut Hiern Dinst (pajak) dari para nomer (pemilik tanah), yang kemudian harus disetorkannya kepada Kanjeng Adipati lewat bendahara Asisten Wedana di Wanareja.

Penyetoran biasanya dilakukannya sendiri melalui jalan Panulisan Wanareja lewat Cilubang yang telah dirintis pembuatannya pada masa pemerintahan Ki Jagara. Suatu hal yang cukup unik, bahwa Ki Bekel adalah seorang yang tidak tahu baca tulis, sehingga untuk menjaga agar jangan sampai terjadi kekeliruan dalam penarikan serta penyetoran pajak, maka setiap uang setoran dibungkus sendiri-sendiri serta diberi tanda yang berbeda.

Selajutnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, dala bidang pertanian secara berangsur-angsur mengalihkan kebiasaan petani yang biasanya cukup dengan berladang, menjadi petani penggarap sawah. Untuk itu dibuatkanlah bendungan-bendungan darurat di aliran sungai Ciomas, begitu pula saluran air sederhana yang mengalirkan kesawah-sawah.

Cucuran keringat masyarakat kiranya tidak sia-sia, karena akhirnya dapat merasakan hasilnya. Sawah tersebut sampai sekarang masih ada di blok Leuwi Bowong dan blok Genggong. Bahkan lebih bertambah pulalah sawah tersebut sejak pelita III dirintis dan dijadikan lokasi Insus dan menjadi sawah percontohan.

Selama kurang lebih 30 tahun. Ki Bekel memegang tampuk pemerintahan desa, selama itu keharuman namanya terdengar ke daerah-daerah tetangga dan sekitarnya. Begitu pula paras pembesar baik di Wanareja maupun Donan mengetahuinya. Bahkan beliau merasa senang sekali atas kejujuran serta keberanian, ditambah lagi dengan limpahan kepercayaan dari Kanjeng Adipati. Sehingga walupun usia Ki Bekel telah lanjut dan berkali-kali mengajukan permohonan berhenti dari jabatannya, tapi belum juga Kanjeng Adipati mengabulkannya.

Baru pada suatu hari di tahun 1847 permohonan berhentinya dapat dikabulkan, tapi berkat adanya suatu kebohongan yang dilakukan Ki Bekel. Ia terpaksa mengelabui Kanjeng Adipati Donan, dengan datang menghadap digendong oleh Ki Alpiasan, yang dikatakannya bahwa dia digendong sejak dari Panulisan sampai dengan Donan, karena sudah tidak kuat lagi berjalan. Sebenarnya Ki Bekel hanya berpura-pura sakit karena sudah merasa terlalu lama serta tidak sanggup lagi melaksanakan pekerjaannya. Padahal permaianan sandiwaranya itu hanyalah dimulai dari alun-alun Donan sampai dihadapan Kanjeng Adipati.

Permaian sandiwara itu kiranya mendpat tanggapan, sehingga akhirnya permohonannya dikabulkan. Dan pada kesempatan itu Kanjeng Adipati menunjuk Ki Alpiasan yang telah dianggap memperlihatkan kesetiaan kepada pemimpinnya yang telah bersusah payah menggendong Ki Bekel. Sebagai penggantinya. Kebetulan penunjukan itu tepat sekali dengan idaman masyarakat, sehingga waktu pemilihan, Ki Alpiasan mendapat dukungan terbanyak.

print this page Print disini

Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
B. Masa Pemerintahan Ki Jayadiwangasa (1817 – 1847) B. Masa Pemerintahan Ki Jayadiwangasa (1817 – 1847) Reviewed by Urang Kampung on 15.52 Rating: 5