C. Masa Pemerintahan Ki Alpiasan (1847 – 1864)

Sejarah Desa Panulisan -  Ditunjuk serta disyahkannya Ki Alpiasan menjadi kepala desa Panulisan yang ke III, mulailah dia memegang tampuk pemerintahan desa, dengan dibantu oleh Ki Bangsanggali dan Ki Narki. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Cilubang ke Ciawitali.

Sebenarnya dalam hal pengetahuan, Ki Alpiasan tidaklah dapat digolongkan ke dalam kategori mampu bahkan dia masih dibawah Ki Bangsangali. Hanya saja diakui bahwa ditinjau dari segi kewibawaan, Dia di atas Ki Bangsangali. Walaupun demikian, Ki Alpiasan dapat mengatur tata pemerintahan dengan baik. Itu semua berkat adanya suatu kerjasama antara Kepala Desa dengan pembantunya dan juga masyarakat Panulisan.

Disamping itu peranan Ni Anjani, istri Ki Alpiasan, yang merupakan dukun bayi, sangat menunjang keberhsilan tugas suaminya, karena kecerdasan dan kewibawaannya. Dalam menghadapi tamu-tamu priyayi, dialah yang berperan, jelasnya keluar Ki Alpiasan yang memegang tampuk pemerintahan, tapi secara kedalam Dialah yang banyak melaksanakannnya.
Diluar pekerjaannya sebagai Kepala Desa, Ki Alpiasan terkenal seorang tokoh yang gemar memelihara kuda. Kuda piaraanya jumlahnya banyak pula, mungkin hal itu dikarenakan tuntutan kebutuhan akan kuda sangat besar sekali saat itu. Kuda merupakan satu-satunya alat transportasi yang digunakan.

Dikisahkan pula bahwa Ni Anjani, walaupun seorang istri tapi sangat terampil menunggang kuda. Saat akan berkeliling desa atau membantu kelahiran ia selalu menunggang kuda, tiada ubahnya seorang laki-laki.

Pada masa itu senipun mulai tampak, diantaranya seni Terebeng. Terebeng adalah sejenis alat musik tabuh terbuat dari kayu berbentuk bunder ceper dengan garis tengahnya sekitar 60 centimeter sampai 1 meter, seperti baskom besar yang pada bagian permukaanya dilapisi kulit hewan, sedang dibagian belakang sengaja dibuat cembung dan diberi lubang dengan garis tengah lebih kurang 15 – 20 centimeter.

Seni ini berasal dari daerah Kutakanyere, yaitu priangan bagian selatan, yang lambat laun sejalan dengan banyknya penduduk disana banyak pula yang pindah ke Panulisan. Yang unik dari seni ini ialah bukan saja memperdengarkan irama akan tetapi sifat mengadu serta memperlihatkan kekuatan. Suatu contoh pada saat klimaks dengan punggung-punggung telanjang, mereka beradu dan bergesekan denganpihak lawan, sehingga dapat menghancurkan beberapa batang bamboo betung yang dibuat sebagai batas penghalang antar grup.

Sebagai gambaran tata cara pementasan tabuhan terebang ini, biasanya dilaksanakn dilapangan terbuka dimana antara grup yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh beberapa batang bamboo yang dipasang melintang. Dimana masing-masing grup terdiri dari 4-6 orang, memukul tabuhanya menurut irama yang telah ditenukannya dengan saling membelakangi.

Kembali kepada masalah pemerintahan, makin lama makin bertambah pulalah penduduk Panulisan. Karena demi mempermudah pelayanan terhadap masyarakat maka pada tahun 1853 berpindahlah Ki Alpiasan ke Buniseuri, tepatnya di pinggir sungai kecil bernama Citundun.

Sepeninggal Ki Alpiasan, kampun Ciawitali menjadi fakum pemimpin, sehingga Ki Alpiasan mengambil langkah menggabungkan kembali dengan Cilubang. Dikarenakan memungkinkan membuat kolam maka dibelang rumahnya dibuat kolam yang besar dan bermacam-macam ikan ditanamnya.

Melihat hal itu terbukalah pemikiran masyarakat disitu untuk meniru jejak pemimpinnya. Sehingga dalam jangka waktu singkat, secara sepontan masyarakat sekitar membuat kolam. Mereka tidak tergantung lagi akan ikan yang ditangkaopnya dari rawa atau sungai.

Perlu dijelaskan bahwa pada tahun ke 9 masa pemerintahan Ki Alpiasan, terjadi perubahan struktur pemerintahan di tingkat Kadipeten Donan, menjadi Kabupaten Tlacap dengan bupati pertamanya Raden Tumenggung Tjakrawedana. Sehingga sejak tahun 1856 pengabdian Ki Alpiasan beralih kepada Residen Banyumas lewat bupati Tlacap.

Pada tahun 1862 datanglah ke panulisan tuan Stoll seorang belanda, yang mendapat tugas untuk mendirikan perkebunan. Daerah yng dikuasai adalah Cipondok, mancakup tempat Ki Bangsanggali tinggal. Semua masyarakat pemilik tanah hanya mendapat bayaran uang ganti rugi atas tanaman, yang disebuat uang Pituas. Karena pada saat itu semua tanah dianggap tanah Gupernemen.

Untunglah masih banyak lahan lain yang dapat mereka jadikan lahan perladangan yang baru. Ki Bangsangali pindah dari Cilubang ke daerah pinggiran sungai Cibarangbang yang kemudian membuka hutan yang kemudian terkenal dengan Babakan Cibarangbang.

Setelah bertempat tinggal di Babakan Cibarangbang maka ia menyerahkan tugasnya Ki Natawijaya untuk menjadi pemimpin masyarakat Cilubang dan Ciawitali.

Demikianlah masa pemerintahan Ki Alpiasan, sampai akhirnya pada tahun 1864 Ki Bangsangali terpilih menjadi kepala desa Panulisan.

print this page Print disini

Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
C. Masa Pemerintahan Ki Alpiasan (1847 – 1864) C. Masa Pemerintahan Ki Alpiasan (1847 – 1864) Reviewed by Urang Kampung on 16.04 Rating: 5