Asal-usul Panulisan: C. Masa Prabu Suradiwana

Hampir bersamaan dengan menyebarnya ajaran Islam di Kerajaan Pajajaran, di kadipaten Cirebonpun terjadi suatu kemelut, sebagai akibat masuknya ajaran agama baru yaitu Islam dimana semakin hari semakin banyak pengikutnya.

Ajaran islam disebarkan oleh seoran wali yang bernama Fatahilah atau biasa disebut Faletehan. Sehingga banyak kerabat Kadipaten yang memeluk islam. Akan tetapi bagi sebagian yang masih percaya dengan ajaran leluhurnya berusaha keluar dari Kadipaten dan tetap melestarikannya.

Salah satu kerabat kadipaten yang pergi adalah Prabu Suradiwana beserta istri dan beberapa abdi kepercayaannya kearah selatan. Perjalanannya melalui hutan belantara, sungai-sungai juga rawa-rawa. Apabila merasa lelah rombongan berhenti dan melanjutkan perjalanan jika dirasa sudah pulih kembali tenaganya.

Setelah berminggu-minggu lamanya, tibalah rombongan Prabu Suradiwana di sebuah daerah subur yang memungkinkan untuk didirikan kadipaten baru, dimana daerah tersebut dilingkari bukit-bukit tinggi. Dan sekarang daerah itu dikenal dengan nama Dayeuhluhur yang berarti Kota Atas. Akan tetapi daerah tersebut dianggap kurang memenuhi syarat untuk dijadikan Kadipaten baru sebagai pengganti Corebon.

Dengan penuh harapan, rombongan berangkat meneruskan perjalanan kearah selatan. Dan sampailah disebuah tempat yang agak terbuka, sehingga bisa melihat pemandangan disekelilingnya. Maka diperintahkannlah seorang prajurit untuk melihat-lihat arah mana yang akan menjadi tujuan selanjutnya. Sekarang tempat tersebut diberi nama Panenjoan.

Dari tempat tersebut rombongan berbelok ke barat daya dan sampailah di sebuah hutan belantara. Dimana pandangan terhalang lebatnya pohon-pohon besar, sedangkan matahari sudah condong kearah barat yang berarti malam akan segera tiba.

Untuk itu Prabu Suradiwana bertitah :
”Panjatlah pohon peundeuy yang berbuah lebat itu, dan lihat kemanakah gerangan arah perjalanan kita. Carilah tempat yang baik untuk kita beristirahat!”

“Daulat Tuanku, segala titah paduka hamba jungjung tinggi”, kata seorang Pengiring seraya menghaturkan sembah. Dan kemudian dengan sigap dipanjatlah pohon itu, setelah beberapa lama pengiring itu turun dan menghadap Prabu Suradiwana.

“Gusti Prabu jungjungan hamba, ampunilah atas kelancangan hamba ini, nun jauh disebelah barat hamba lihat sebuah aliran sungai diapit lereng-lereng bukit”.

“Rasanya tepatlah dugaanku, semoga saja Hyang Widi meluluskan permohonanku. Siapkan segala perbekalan dan kita berangkat sekarang juga!”.(kini tempat itu dinamakan Pendeuy).

Berangkatlah rombongan menuju ke barat dan menjelang tengah malam sampailah ke sebuah tempat yang berada di ketinggian, dimana terdengar sayup-sayup suara air mengalir. Udara malam terasa dingin menusuk tulang, dan akhirnya rombongan bermalam ditempat itu.

Ketika terjaga dari tidurnya, matahari telah naik di ufuk timur dan kehangatan mulai terasa. Namun betapa terkejutnya sang Prabu, manakala tempat yang dijadikannya sandaran, merupakan dua buah batu besar yang mirip dengan gapura. Maka tempat tersebut dinamakan Lawang Saketeng.

Sang Prabu sangat terkesan atas panorama indah serta udaranya yang sejuk, sehingga lamalah beliau tinggal ditempat tersebut. Pada saat senggang beliau sering memberikan petunjuk serta tuntunan kepada abdinya, sehingga Sang Prabu mendapat julukan Sang Ratu Pawulang Paweling.

Akan tetapi melesetlah dugaan sang prabu, dimana sedianya tempat itu diharapkan menjadi tempat yang cocok untuk dijadikan kaadipaten, akan tetapi tempat itu tidaklah begitu luas. Beberapa kali Sang Prabu mendapat kegagalan untunglah sang istri yang selalu setia terus memberikan semangat dan terus menghiburnya.

Dalam kegundahannya itu Sang Prabu berkata: “ tah tahunya hanya sebesar kancah, mana cukup untuk menjadikan Kadipaten yang dapat menyamai Cirebon, akh…gagal pulalah harapanku”. Sejak saat itu, lembah yang subur yang dilingkari pegunungan terjal dan dibatasi aliran sungai Cijolang, dinamakan orang sebagai Cikancah.

Perjalanan dari Cirebon sampai dengan Cikancah melalui hutan belantara yang penuh dengan duri, tebing yang curam, jurang, belum lagi binatang buas bukanlah perjalanan yang menyenangkan, tetapi sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga.

Sejak keberangkatan Sang prabu, banyak sudah korban dari para pengiringnya yang berjatuhan dan semakin sedikitlah rombongan itu. Demikian halnya dengan perlengkapan yang dibawanya, sehingga diputuskanlah untuk menetap disana dan membuat perladangan guna bekal perjalanan nanti. Sang Prabu menyadarai, tidaklah mustahil apabila sewktu-waktu akan timbul bahaya yang mengancam keselamatan dirinya beserta rombongan. Untuk itu setelah selesai membuat pesanggrahan di Cikancah, langkah pertama yang dilakukannya adalah menyembunyikan gajah yang dibawanya kepinggiran sungai cijolang, yang sekarang dinamakan batu gajah.

Sedangkan sebagian barang bawaannya yang dianggap tidak diperlukan dibungkus kain dan disembunyikan disebuah sungai kecil, yaitu sungai Cibutun, sedang sebuah bungkusan lagi yang ternyata berisi kancing disembunyikan disebuah bukit yang sekarang dinamakan Bojongkancing.

Adapun langkah kedua, yaitu dengan menugaskan pengiringnya untuk membuat penjagaan di Lawang Seketeng. Sang prabu sibuk mengatur siasat dan menanamkan semangat juang kepada para pengiringnya. Dalam hal penjagaan, dititik beratkan pada pengawasan terhadap tamuu yang datang.

Langkah ketiga, adalah dengan menggunakan pusakanya, yaitu sebuah Boneka Kencana sebagai penyamaran, sehingga manakalah musuh datang tidak akan mengetahui keberadaan Pesanggrahan Sang Prabu.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, cikancah sampai saat ini masih pantang dimasuki para pejabat pemerintah/menak, sejak dari kepala desa keatas atau tamu yang menunggang kuda atau bersepatu. Dan apabila melanggar pantangan itu, maka gerumbul Cikancah tidak akan Nampak dalam pandangan yang terlihat hanyalah hutan lebat.

Bahkan sewaktu Negara kita dijajah Belanda, Jepang dan pada saat terjadi kekacauan DI TII, cikancah terbebas dari serangan dan setiap ada yang masuk mereka akan kesasar. Berpijak dari kepercayaan itu dimana bertuannya Golek Kencana Sang Prabu, sampai saat ini tidak seorangpun warga Cikancah berani mementaskan kesenian wayang golek. Begitupula karena rombongan Sang Prabu kehabisan perbekalan dan bermukim di Cikancah untuk mencari bekal, maka tidak ada yang berani berdagang disana, karena menurut mereka usah itu tidak akan mendapat keuntungan, bahkan sebaliknya yang didapat hanyalah derita.

Begitulah kepercayaan masyarakat setempat yang masih melekat kuat sampai saat ini. Sedangkan segala pantanagn itu, tidak berlaku jika sudah berada di luar batas lawang Seketeng. Bertahun-tahun Sang Prabu tinggal di Cikancah hingga dinamakan Sang Ratu Pawulang Paweling, sehingga menjelang akhir hayatnya beliau bersemedi di sebuah bukit yang bersebrangan dengan pesanggrahannya, tepatnya di Kuta Dalam, yang sekarang termasuk kedalam wilayah Jawa Barat. Menurut cerita tempat muksanya sang prabu ini dinamakan Petilasan Ki Dima Raksa Kalijaga dan dikeramatkan oleh penduduk setempat.


print this page Print disini

Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
Asal-usul Panulisan: C. Masa Prabu Suradiwana Asal-usul Panulisan: C. Masa Prabu Suradiwana Reviewed by Urang Kampung on 15.57 Rating: 5