Asal-usul Panulisan: D. Masa Ki Jantara

Bertahun-tahun semenjak kepergian Sang Prabu Suradiwana dari Kadipaten Cirebon, para kerabat selalu menanti kabar dengan harap-harap cemas. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Sehingga untuk mencari keberadaan Sang Prabu, diutuslah empat abdi kepercayaan. Karena Perjalanan itu menghadapi banyak rintangan selain harus masuk kedalam hutan-hutan juga bisa datang rintanagn lain.

Maka diutuslah empat orang abdi yang handal yaitu Ki Jantara, Ki Panandaan, Ki Arsakrama, dan Ki Anggaraksan. Dalam keberangkatannya menuju kearah selatan, Ki Panandaan dan Ki Arsakrama secara sembunyi-sembunyi membawa istrinya, sedangkan yang lainnya masih menyendiri.

Dalam melaksanakan tugas yang sangat berat itu, dimana ancaman hukuman berat selalu menanti mereka apabila tidak melaksanakan tugas sampai berhasil, mereka hanya bermodalkan semangat serta harapan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya mereka bertanya kepada orang yang dijumpainya, sehingga setelah bertahun-tahun lamanya sampailah mereka di Cikancah tempat Prabu Suradiwana beserta pengiringnya berada.

Namun sungguh kecewa hati mereka, karena kabar yang mereka terima dari setiap orang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Cikancah dalam pandangan mereka hanyalah hutan belantara yang tidak menampakan tanda-tanda adanya kehidupan manusia. Itu tiada lain dikarenakan pengaruh dari pusaka Golek Kencana yang menyamarkan cikancah.

Putuslah harapan mereka untuk menemukan Sang Prabu, sedangkan untuk kembali ke Cirebon tak cukup berani. Akhirnya dalam keputusannya mereka mencari jalan sendiri-sendiri. Ki Jantara berjalan ke arah selatan dan sampilah di gunung Pasirereng dimana disana terdapat sebuah kawah yang dikelilingi semak belukar dengan hamparan rumput yang menghijau diantara gunung Pasirereng, gunung Pasirgede dan gunung Tilu.

Ditempat itu dijumpai banyak binatang hutan seperti rusa, menjangan, banteng, babi hutan dan lain-lain. Melihat hal itu Ki Jantara dengan peralatan sederhana memburu binatang untuk makan sehari-hari. Menurut cerita atap dan dinding gubuknya terbuat dari kulit binatang hasil buruannya. Dan sampai akhir hayatnya kijantara tetap menempati tempat tersebut. Dan kini kawah itu dinamakan kawah Ki Jantara.

Lain halnya dengan Ki Arsakrama beserta istrinya, mereka berjalan ke tenggara sampai di hutan Mangoneng atau yang sekarang menjadi kawasan PTPN IX dikawasan Moncolimo. Melihat kesuburan tanah disana akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dan bertani sampai akhir hayatnya. Makam keduanya sampai sekarang masih dikeramatkan.

Ki Panandaan mempunyai cerita sendiri ia dan istrinya berjalan ke arah timur sampai di sebuah bukit kecil di pinggiran kali Ciomas. Kedatangan mereka disambut baik oleh warga disana. Lambat laun Ki Panandaan lebih menonjol dalam segala hal, sehingga para penduduk banyak yang berguru kepadanya. Disamping mengajarkan beberapa ilmu ketangkasan, kebatinan serta bertani, beliaupun membuka perladangan. Gadung, cere, serta kapas ditanam disana dan tumbuh dengan suburnya.

Dikarenakan disana banyak pula pohon aren maka diajarkanlah kepada para penduduk bagaimana cara menyadapnya sedangkan istrinya mengajarkan cara memintal kapas dan menenun secara tradisional. Dan untuk menumbuk padi dibuatlah lumping dari batu yang sampai sekarang masih ada. Gadung dijadikan juga dijadikan makanan pokok sedang cere sebagai hidangan ringan. Begitu banyaknya tanaman gadung disana sehingga setelah keduanya meninggal bukit tersebut diberi nama gunung Gadung, dan disanalah keduanya dimakamkan.


Ki Anggaraksan berjalan ke arah timur dan sampai ke dekat muara kali cilubang, disana ia menemukan batu ceper. Karena merasa gundah dan hamper putus asa bersemedilah ia diatas batu tersebut. Beliau juga sering berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar.

Walaupun tidak begitu lama Ki Anggaraksan tinggal disana akan tetapi dia banyak memberikan petunjuk yang sangat berguna bagi masyarakat. Dan sebagai penghargaan masyarakat kepadanya maka namanya diabadikan sebagai nama lapangan sepak bola oleh warga Cilubang dengan nama Anggara Bhakti


Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
Asal-usul Panulisan: D. Masa Ki Jantara Asal-usul Panulisan: D. Masa Ki Jantara Reviewed by Urang Kampung on 18.24 Rating: 5