Asal-usul Panulisan: E. Masa Embah Prabu (Sirod Sejati)

Dikisahkan di puncak sebuah bukit berbatu, terdapat sebuah Padepokan Sarongge. Padepokan yang tidak megah, akan tetapi cukup nyaman dengan angin pegunungan, dan dikelilingi pohon yang rimbun serta besar.

Sedikit ke sebelah utara, terdapat sebuah anak sungai berliku-liku, membelah bukit itu menjadi dua bagian, dan airnyapun begitu jernih, sayup-sayup gemuruhnya terdengar sampai padepokan, diselingi suara kicauan burung-burung menambah indahnya alam disana. Melalui lereng bukit agak ke timur laut, terdapat jalan setapak menuju arah kali dan merupakan jalan bagi para penghuni padepokan untuk mandi dan keperluan lainnya.

Apabila dari puncak bukit melayangkan pandangan ke sebelah selatan, akan tampak terhampar dataran rendah yang menghijau serta aliran sungai Cijolang yang berkelok seperti seekor naga besar mencari mangsa. Sungguh tepat sekali Embah Prabu, begitulah nama pemilik Padepokan Sarongge memilih tempat tersebut.

Konon, Embah Prabu adalah salah satu kerabat keraton Pajajaran, yang meninggalkan tempat asalnya dengan alasan makin meluasnya ajaran Islam di kawasan itu, yang dibawa oleh Prabu Kian Santang putra Prabu Siliwangi. Dia terkenal seorang kerabat keratin yang mempunyai ilmu dan kesaktian yang tiada tanding. Walaupun demikian dia tidak mengadakan perlawanan atas desakan ajaran agama baru, karena menurut pendapatnya, sudah saatnyalah di tanah jawa ini berganti alam. Berganti alam yang dimaksud bahwa walau bagimanapun ajaran Islam di tanah jawa tidak bisa dibendung lagi.

Sedangkan kepergiannya ke Sarongge, disatu sisi menghindari bentrokan fisik dengan penganut ajaran Islam yang juga masih kerabat keratin, disisi lain merasa segan untuk menganut suatu ajaran. Menurut cerita dia memiliki nama Raden Sirod Sejati yang keberangkatannya membawa serta istri Siti Ratu Sirna Asih, juga beberapa abdi kepercayaannya.

Bersamaan dengan itu, kerabat lainnya juga sepaham dengan Embah Prabu membentuk suatu kerajaan siluman di Rawa Onom dan muksa disana, yaitu disebelah barat Sarongge yang terhalang lembah dan sungai Cijolang.

Bertahun - tahun lamanya Embah Prabu bermukim di Sarongge. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Embah Prabu memerintahkan pengikutnya memetak-metak tempat berladangnya, dengan memilih tempat yang subur. Bahkan sebagian pengikutnya ada pula yang memilih lahan perladangan di sebelah timur dipinggir aliran sungai kecil Ciomas.

Untuk menjaga agar tanaman mereka tidak dirusak binatang, kadang mereka harus menungguinya siang malam. Bahkan lama kelamaan mereka lebih kerasan di pondok karena disamping tanamannya dapat terjaga, jarak untuk kembali ke Sarongge pun cukup jauh. Tempat tinggal mereka sekarang diberi nama Cipondok diambil dari sebuah, Ci yang bearti air karena deket sungai dan pondok yaitu tempat bermalam atau mondok.

print this page Print disini

Asal-usul Panulisan: E. Masa Embah Prabu (Sirod Sejati) Asal-usul Panulisan: E. Masa Embah Prabu (Sirod Sejati) Reviewed by Urang Kampung on 18.36 Rating: 5