Asal-usul Panulisan: F. Masa Raden Juru Tulis

Pada suatu hari, datanglah ke Padepokan Sarongge, seorang pemuda kelana. Wajahnya menampakan ekspresi orang kelelahan karena menempuh perjalanan jauh. Walapun demikian dari celah kelesuannya, masih Nampak raut wajah yang sangat tampan, dengan perawakan yang tinggi semampai.

Jika dilihat dari sikap dan ketenangannnya, nampaklah kiranya pemuda itu bukanlah orang sembarangan, melainkan setidaknya dari keturunan bangsawan atau orang yang berilmu tinggi yang sengaja berkelana. Konon pemuda itu bernama Raden Sungging Purbangkara, ia datang dari suatu tempat yang jauh dari sebelah timur, yaitu salah satu bagian dari wilayah kerajaan Mataram.

Panas terik, hujan angin, jurang dalam dilaluinya tanpa mengenal lelah. Tekadnya yang membaja membuatnya selalu tabah menghadapi segala rintangan. Berbulan-bulan lamanya ia dalam perjalanan tapi tak seorangpun tau maksud tujuannya. Yang jelas ia memiliki ilmu silat yang sudah sempurna dan juga keahlian menulis, mengukir dan melukis.

Raden Sungging sampai ke Sarongge sebenarnya hanyalah suatu kebetulan saja, tetapi manakala bertemu dengan Embah Prabu, ia merasa terkesan atas penerimaan tuan rumah yang begitu sopan, ramah dan berwibawa. Begitupula pihak tuan rumah merasa bersimpati kepada pemuda pendatang itu. Sehingga menetaplah Raden Sungging di padepokan Sarongge. Kehadirannya banyak membawa perubahan kepada masyarakat disitu. Ketulusan hati serta keramahannya selalu ditiru oleh masyarakat sekeliling.

Bahkan banyak juga para pemuda yang mendapatkan pelajaran ilmu beladiri, dan disela-sela kesibukannya dia membuat suatu simbul alat tulis dari batu berbentuk papan tulis, pena dan tempat tinta sebagai suatu perwujudan bakatnya.

Dan dijaman itu di tanah jawa masih sedikit orang yang pandai menulis, kecuali para bangsawan dan kerabat keratin, itupun masih dapat dihitung jumlahnya. Dengan demikain tentu saja kepandaian tulis menulis Raden Sungging, membuat kagum embah Prabu dan yang lainnya. Sebagai perwujudan dari rasa kagumnya ia diberikan panggilan Raden Jurutulis.

Menurut cerita, embah Prabu tidak meninggal dunia melainkan muksa atau ngahiang. Tempat muksanya diberi nama Petilasan Sarongge atau Petilasan Embah Prabu. Dikarenakan ia tidak memiliki putra sehingga Raden Jurutulislah yang meneruskan padepokan itu, dari mulai melatih, memberi perlindungan dan lain-lain hingga akhir hayatnya.

Untuk melampiaskan rasa rindunya, Raden Jurutulis menuangkan perasaannya melalui tulisan di sehelai daun lontar yang berbahasa sangsakerta. Akan tetapi peninggalan tersebut sekarang telah tiada. Saking asyiknya menulis kadang beliau lupa makan dan minum bahkan beberapa hari tidak keluar dari tempatnya.

Tahun demi tahun Raden Jurutulis bermukim ditempat itu dan sampailah ia pada ajalnya, beliau dimakamkan oleh penduduk dan penghuni padepokan di lereng sebuah bukit di sebelah barat Sarongge, dimana disitupula berdiri sebuah sanggar tempat beliau melakukan kegiatan tulis menulisnya. Untuk mengenang beliau maka bukit itu dinamakan orang sebagai Gunung Panulisan yang hingga sekarang sering di kunjungi orang dan dianggap sebagai petilasan. 

Sedang untuk memelihara petilasan itu ditunjuklah seorang juru kunci yang pertama Ki Astra laut, kemudian Ki Kali (Ki singadirana) dan yang ketiga Ki Hatomi. Dan sejak itu tersebutlah nama panulisan yang kemudian dikenal menjadi sebuah desa.

print this page Print disini

Asal-usul Panulisan: F. Masa Raden Juru Tulis Asal-usul Panulisan: F. Masa Raden Juru Tulis Reviewed by Urang Kampung on 18.38 Rating: 5