Asal-usul Panulisan: G. Masa Embah Maya Singa

Beberapa tahun kemudian, datanglah Embah Mayasinga yang merupakan kerabat dari Embah Prabu dengan tujuan mengajaknya kembali ke tempat asal. Tibalah ia dia Sarongge setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Betapa kaget serta luluh hatinya setelah mengetahui bahwa orang yang dicarinya ternyata telah tiada. Yang ada hanyalah petilasan serta puing-puing bangunan padepokan, yang berdiri kaku diantara rimbunan pohon. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, dan kemudian dirawatlah petilasan itu.

Ternyata embah Mayasinga bukan saja memiliki ilmu yang tinggi akan tetapi mempunyai budi pekerti yang luhur serta pandai bergaul. Kehadirannya dalam beberapa hari saja telah banyak mengundang simpati penduduk disekelilingnya. Embah Mayasinga sedikit demi sedikit mengajak serta membimbing masyarakat disekitarnya yang pada akhirnya ia diangkat menjadi guru mereka. Berbagai ilmu diajarkannya kepada para pengikutnya, tanpa mengharapkan pamrih sedikitpun. Diantara sekian muridnya, terdapat dua orang yang paling menonjol dalam segala hal, Ki Astramanggala dan Ki Jayadiwangsa. Keduanya dapat dikatakan mewarisi seluruh ilmu Embah Mayasinga.

Embah Mayasinga merupakan tokoh yang berjasa merintis pembukaan hutan di desa Panulisan. Sekitar tahun 1787 beliau wafat dan dimakamkan di Cirungkun, makamnya hingga sekarang masih dikeramatkan orang dan tidak ada yang berani memugarnya. Menurut cerita pakaiannya masih tersimpan dicirungkun. Dan untuk mengenangnya pada pelita III, namanya diabadikan menjadi nama lapangan sepak bola Desa Panulisan yaitu lapangan sepak bola Mayasinga.
Asal-usul Panulisan: G. Masa Embah Maya Singa Asal-usul Panulisan: G. Masa Embah Maya Singa Reviewed by Urang Kampung on 18.40 Rating: 5