Sejarah Panulisan masa Pemerintahan Ki Bangsangali (1864 – 1868)

Sejarah Desa Panulisan - Dalam melaksanakan tugasnya, Ki Bangsangali dibantu oleh beberapa orang Kepala Kampung, Ki Natawijaya sebagai kepala kampung Cilubang, Ki Narki sebagai kepala kampung Panulisan mencakup pula Cirungkun, Ki Sarkam sebagai Kepala Kampung Babakan Cibarangbang yang mencakup Peundeuyrawey, Cimanggeng dan Pasirkebi.

Sedangkan setahun kemudian, Ki Narki berhenti dari jabatnnya, karena usianya yang sudah tua. Kekosongan jabatan itu tidak diisi kembali, melainkan Kampung Panulisan dan kampung Cirungkun disatukan dengan Buniseuri dibawah pimpinan Ki Bangsadirana. Dan sejak saat itulah, nama Panulisan lambat laun menjadi Panulisan Kolot, sedangkan pusat pemerintahan berpindah ke Babakan Cibarangbang, dan kemudian dinamakan Panulisan sampai sekarang ini.

Di dalam urutan pemerintahan Ki Bangsangali tercatat sebagai Kepala Desa keempat, sejak Panulisan dijadikan Desa namun merupakan Kepala Desa pertama yang dapat membaca dan menulis, walaupun baru terbatas pada tulisan jawa kuno dan arab saja. Itu bisa dimaklumi karena saat itu masih sulit bagi orang pribumi untuk mengikuti pendidikan formal. Maklumlah sekolah yang tersedia adalah milik belanda dan sebagian besar muridnya orang-orang belanda, dan walaupun ada satu atau dua itupun anak pembesar saja. Walaupun hasrat untuk belajar telah melekat pada setiap dada masyarakat, tetapi toh hanya sebatas angan-angan saja. Akibatnya bangsa kita, jarang yang bisa membaca dan menulis. Memang demikian kiranya siasat para penjajah, sehingga mereka dapat dengan semena-mena memperbudak bangsa kita.

Bagi mereka yang mempunyai modal serta keberanian, secara sembunyi-sembunyi berusaha belajar membaca dan menulis huruf jawa kuno kepada orang-orang yang pandai, yang jumlahnya sangat sedikit. Begitupula belajar menulis dan membaca huruf arab kepada para ajengan (kyai) yang disana sini mulai bermunculan, bersamaan dengan masuknya ajaran islam ke Panulisan.
Dari sejumlah orang yang ikut serta belajar membaca dan menulis huruf jawa dan arab, diantaranya adalah Ki Bangsangali. Dengan masuknya ajaran Islam ke Panulisan, sangat menguntungkan masyarakat yang memang sudah sangat haus akan pendidikan, juga telah memberi warna tersendiri pada peradaban masyarakat.

Begitu pula kesenian tak luput dari pengaruhnya. Ini bisa dibuktikan sejak adanya perpaduan antara seni tradisional dengan Islam yaitu Nyolawat. Satu-satunya seni yang paling digemari masyarakat dan memang menjadi suatu seni faporit pada acara selamatan. Sebagaimana lazimnya jaman sekarang, pada waktu itupun telah ada istilah fitnah, baik secara pribadi maupun secara dinas kepada Pemerintah.

Begitu pula halnya Ki Raswa, Dia kurang senang atas sikap dan prilaku Ki Bangsangali, sehingga dengan dalih bahwa Ki Bngsangali telah menggelapkan uang pajak, maka dilaporkanlah permasalahan itu kepada Bendara Asisten Wedana Wanareja yaitu Raden Rangga. Dalam usulannya dicantumkanlah bahwa dimohon agar Raden Rangga memberhentikan Ki Bangsangali sebagai Kepala Desa.

Akibat dari laporan itu Ki Bangsangali dipanggil ke Wanareja, diakuinya secara jujur bahwa ia telah mempergunakan uang pajak sebesar F. 30, dan ia sanggup mengganti uang tersebut paling lambat satu minggu setelah hari itu.
Selesai diperiksa Ki Bangsangali pulang ke Panulisan, sesampainya di rumah ia memanggil para pekerjanya yang biasa membantunya sebagai pandai besi. Selain sebagai Kepala Desa ia juga nyambi sebagai pandai besi. Ia menjelaskan kepada para pekerjanya, bahwa dalam waktu singkat ia harus mengumpulkan uang sebesar F. 30,- untuk itu mereka harus bekerja keras selama semalaman. Akan tetapi mereka masih bingung apa yang harus mereka kerjakan. Barulah mereka mengerti apa yang harus mereka perbuat setelah Ki Bangsangali memukul-mukulkan martil ke tahanan (besi tahanan pandai besi). Seolah-olah ia memberitahukan sesuatu kepada masyarakat, setelah itu berdatanganlah pemesan baik dari dalam desa maupun luar desa, seperti Dayeuhluhur dan Bangunharja, dimana mereka memesan alat pertanian. Sehingga sibuklah semua pekerja termasuk Ki Bangsangali selama semalaman. Dan usahanya ini tidak sia-sia, setelah dihitung pendapatannnya melebihi yang ia perlukan bahkan masih ada sisa dari membayar upah pekerjanya.

Maka berangkatlah siang hari itu ke Wanareja menghadap bendahara Asisten Wedana untuk menyetorkan sejumlah uang sebagaimana yang telah dijanjikan. Betapa kagumnya Asisten Wedana melihat kenyataan ini, karena baru hari pertama dari 7 hari yang dijanjikan, Ki Bangsangali telah bisa mngganti uang pajak.

Dengan segala kerendahan hati dijelaskanlah bahwa uang tersebut didapat dengan jalan halal, sebagai hasil dari memeras keringatnya sendiri. Mendengar hal tersebut timbulah niat Asisten Wedana untuk mengetahui mutu dari hasil tempaan Ki Bangsangali. Maka dipesannyalah sebuah golok berukuran tiga jengkal, yang diharapkan agar dibuat sebaik mungkin dalam waktu singkat.

Ki Bangsangali dengan rasa bangga setelah mendapat kepercayaan dari atasannya, sehingga perjalannan jauh yang ditempuhnya tidak terasa. Tanpa beristirahat dahulu, sesampainya di rumah, ditempalah pesanan tersebut. Keesokan harinya, pesanan yang telah selesai itu diserahkannya kepada bendahara Asisten Wedana. Untuk meyakinkan ketajamannya, dicobanya golok tersebut untuk membabat tiga buah paku kaso yang sengaja ditancapkannya di tiang pendopo, ketiga paku tersebut putus tanpa meninggalkan sedikit bekaspun dimata goloknya. Setelah melihat keistimewaan golok itu, legalah hati bendahara Asisten Wedana dan sebagai rasa terima kasih kepada Ki Bangsangali, ia menganugerahkan 2 hal; pertama Ki Bangsangali mendapat julukan Ki Bangsaguna, dan yang kedua ia tetap diberikan kepercayaan untuk memegang tampuk pemerintahan desa.

Dengan demikian makin kokohlah kedudukan Ki Bangsangali sebagai Kepala Desa Panulisan, dan sebelum ia mengakhiri masa jabatannya ia mempunyai andil dalam pembangunan desa, dengan jalan meningkatkan areal pesawahan. Dimana dibukanya lahan baru di blok Rancaminyak dan sebagian di blok Rancasenggang. Memang merupakan ciri kahsa Ki Bangsangali yang senantiasa ingin memajukan kesejahteraan masyarakatnya, seperti halnya perintisan pembuatan saluran air antara Cikoneng dan Cidatar serta pembuatan lahan pesawahan di Cikoneng.

Namun masyarakat hanya mengenyam hasil jerih payahnya sebentar karena ia harus menyerahkanya kepada tuan Stoll untuk dijadikan perkebunan. Hanya sangat disayangkan Ki Bangsangali sudah tua sehingga ia tidak bisa melanjutkan pekerjaanya sebagai Kepala Desa.
print this page
Sejarah Panulisan masa Pemerintahan Ki Bangsangali (1864 – 1868) Sejarah Panulisan masa Pemerintahan Ki Bangsangali (1864 – 1868) Reviewed by Urang Kampung on 16.01 Rating: 5