Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Maryani (1879 – 1884)

Sejarah Desa Panulisan - Pada tahun 1879 Ki Maryani terpilih menjadi Kepala Desa panulisan ke VI menggantikan Ki Astramanggala. Ki Maryani bertempat tinggal di pinggir sebuah rawa kecil tepatnya di blok Cigembor kampung Buniseuri.

Pusat pemerintahan berpindah kesana, walaupun tidak semegah balai Ki Sastramanggala, Ki Maryani pun telah membuat balai tempat pertemuan di depan rumahnya.
Pada awal pemerintahannya ia dibantu oleh tiga orang pembantu, ialah Ki Martani untuk kampung Panulisan, Ki Bangsadirana untuk kampung Buniseuri dan Ki Suradiwangsa untuk kampung Cilubang.

Apabila melihat pada struktur organisasi desa yang masih sederhana, maka bisa diambil kesimpulan bahwa tugas yang diemban masih jauh dibandingkan sekarang. Maklumlah karna pada waktu itu kita masih dalam cengkraman penjajahan belanda, juga situasi dan kondisi belum menuntut lebih banyak pekerjaan aparat pemerintahan desa.

Namun demikian bukan berarti Ki Maryani tidak mempunyai andil dalam merintis pembangunan desa, karena pada masa pemerintahannya ia memprakarsai pembuatan terobosan jalan antara Panulisan – Ciawitali lewat Moncolimo. Hal itu dilakukan untuk memberi kemudahan lalu lintas bagi masyarakatnya. Walaupun pekerjaan itu sangat menguras tenaga dan pikiran baik bagi kepala Desa maupun seluruh warganya. Tidak sedikit kesulitan yang mereka hadapi dalam pembuatan jalan itu, karena disamping medan yang sangat sulit ditaklukan, juga banyak melalui rawa yang cukup dalam, sehingga terpaksa dibuat jalan melingkar untuk menghindarinya. Pekerjaan yang paling sulit dilakukan adalah sejak sungai Ciranjeng sampai dengan blok tugu sekarang, karena disana terdapat dua bukit yang sangat tinggi, sehingga jalan terpaksa naik. Ditempat itu pula terdapat pohon bungur besar, karenanya tanjakan itu dahulu dinamakan Tanjakan Bungur, yang kemudian dikenal dengan nama tanjakan uda. Sebab setelah bungur itu ditebang berdirilah rumahnya Ki Uda.

Lepas dari pada itu masih harus menghadapi bukit lainnya yang sangat rimbun dengan pohon-pohon. Satu diantaranya menjulang sebatang pohon Bunipasir yang sangat besar. Makanya pada waktu itu jalan tersebut dinamakan Tanjakan Bunipasir, tepatnya di blok tugu (simpang tiga moncolimo). Jalan tersebut sekarang menjadi jalan protokol Desa Panulisan dengan daerah Mergo.

Sedangkan kehidupan masyarakatnya, terlihat suatu kehidupan yang tentram, damai dan saling pengertian satu sama lain. Mereka hidup dengan bidangnya masing – masing dan berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya, ada yang berdagang dan bertani. Mereka sudah tidak kekurangan sandang dan pangan, lumbung-lumbnung padi padat berisi. Para ibu dan gadis desa disaat senggang sibuk menenun benang untuk dijadikan pakaian.

Hari demi hari mereka lalui dengan kucuran keringat, tapi selalau mereka lakukan dengan wajah yang ceria. Dendang ria anak-anak ikut mewarnai bukit dan lembah panulisan, memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang mendengarnya. Pada sore hari usai pekerjaan, anak-anak kecil ramai bermain dihalaman rumahnya masing-masing, ada yang bermain petak umpet, bermain baren, dan permainan lainnya. Sedang para orang tua selalu asik membicarakan ladang dan sawah mereka sambil melinting rokok dari daun aren atau nipah.

Sedangkan anak remaja selalu bergerumul terpisah dari orang tua dan anak-anak. Biasanya mereka mempunyai pasangan masing-masing. Dalam pergaulannya, Karinding (alat musik terbuat dari kulit pelepah aren) selalu menjedi pelengkap pertemuannya.

Saat itu Karinding merupakan alat musik yang paling populer diklangan anak remaja desa, bahkan menjadi ciri khas bagi para gadis untuk menentukan atau menduga siapakah pemuda yang datang berkinjung disekitar rumahnya. Konon dengan keahliannya mereka dapat membunyikan Karinding menirukan suara manusia.

Suatu kebiasaan remaja yang sangat unik, adalah kebiasaan para pemuda manakala bertandang ke rumaha kekasihnya. Penampilannya tentu saja sudah dipersiapkan serapih mungkin, agar benar-benar dapat lebih memikat kekasihnya. Disaku kemejanya diselipkan beberapa lembar sirih pilihan, dengan tangkai yang dicuatkan ke atas sehingga nampak jelas dari luar dengan bunga-bunga sirihnya tergerai di luar saku. Sebelah tangannya menenteng daun sirih dan pinang muda yang dibungkus sapu tangan. Sedangkan anak gadis lain lagi caranya, mereka serasa telah sempurna penampilannya manalkala bibir mereka telah merah merekah karena makan daun sirih, serta giginya terawat baik hingga berwarna hitam ( dimangsi ).

Budaya masyarakat yang demikian bukan saja berlaku pada pemrintahan Ki Maryani saja, akan tetapi berjalan beberapa kurun waktu, baru lambat laun mulai pudar setelah masuknya peradaban serta budaya yang datang dari kota. Hal itu juga berlaku bagi kesenian lainnya, seperti tarebang, tayuban dan renteng.

Pada saat tiba musim panen, lebih meriah lagi keadaannya, ini mungkin sejalan dengan kuatnya kepercayaan masyarakat tani terhadap padi yang dianggap sebagai penjelmaan Dewi Sri. Di sawah-sawah dipasang umbul-umbul dengan menggunakan selendang termahal bernama romo/lokcan yaitu selendang berwarna yang dikedua ujungnya memakai rumbai-rumbai.

Sebagai luapan rasa senangnya atas keberhasilan panen padi, setelah padi kering mereka mengadakan upacara pembawaan padi dengan menggunakan Rengkong, yaitu alat pikulan yang terbuat dari sepotong bambu hitam yang dikedua ujungnya diberi lubang persegi. Para pemikul yang biasanya terdiri dari enam sampai tujuh orang berjalan memikul beberapa ikat padi yang tergantung pada ke dua ujung pikulannya dengan posisi berjajar, sehingga membuat gerakan gerakan yang dapat menimbulkan gesekan tali pada pikulannya dan menimbulkan bunyi yang khas. Bunyi itu biasanya diusahakan agar bersaut-sautan satu sam lain, sehingga seolah olah merupakan suatu perpaduan suara yang menarik. Sedangkan didepannya berjalan seorang Punduh yang membawa dua ikta padi induk di atas kepalanya. Baru dibelakangnya berjalan berpuluh-puluh pemikul lannya.

Hal lain yang perlu diingat adalah masalah keamanan yang pada waktu itupun sangat mendapat perhatian Kepala Desa. Lebih-lebih karena adanya aturan tertentu dari pemerintah, yang dengan tegas akan memberhentikan seseorang dari jabatan Kepala Desa apabila terjadi sebanyak 12 kali tindak kriminal tidak bisa diungkapkan.
Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Maryani (1879 – 1884) Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Maryani (1879 – 1884) Reviewed by Urang Kampung on 16.43 Rating: 5