Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Menjadi Kokolot Lembur

Tersebutlah di lembah Gunung Panulisan seorang tokoh bernama Ki Astramangala yang merupakan murid kesayangan Embah Mayasinga yang telah memiliki hampir semua ilmu dari gurunya. Sehingga ia sangat disegani dan dihormati masyarakat sekitar.

Sifat adil dan bijaksana merupakan landasan dimana ia bisa selalu memecahkan setiap masalah yang ada dan dapat diterima oleh semuanya. Dalam hidup bermasyarakat Ki Astramanggala merupakan pelopor kegotong-royongan, bukan hanya member perintah ataupun petunjuk akan tetapi secara langsung memberikan contoh yang baik, sehingga lambat laun usaha ini membuahkan hasil yang gemilang.


Prinsip ringan sama dijinjing berat sam dipikul, bukanlah hanya sekedar peribahasa belaka, melainkan benar benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena mereka mneyadarai bahwa gotong royong merupakan sarat utama yang meringankan segala beban kehidupan. Hidup rukun dan sepenanggungan yang dilandasi saling pengertian antara sesame warga panulisan, bukan saja dirasakan oleh masyarakat itu sendiri, melainkan terdengar pula kedaerah lain.


Hal ini menyebabkan banyak diantara penduduk sekitar yang pindah, dan dalam jangka waktu yang tidak berapa lama bertambahlah penduduk Panulisan, ada yang memilih dilembah Panulisan, ada pula ditempat lain disekitar Panulisan. Petak-petak perladangan baru mulai bermunculan dan semakin banyak. Segala jenis tanaman yang ditanam tumbuh dengan subur. Disamping tanaman pangan ada pula kapas sebagai bahan membuat pakaian. Dan pada umumnya mereka sudah mempunyai keterampilan menenun dan memintal kapas dengan menggunakan kincir.


Diselang-selang berladangnya mereka gunakan untuk berburu binatang seperti menjangan, babi hutan, banteng dan lain-lain. Yang memang banyak terdapat dilembah Gunung Panulisan. Berkat ketekunan mereka dalam bercocok tanam, jadilah akhirnya lembah Panulisan menjadi lembah yang subur. Hasil palawija seperti, padi, gandum, wijen, dan tanaman lain berlimpah.


Hari-hari berlalu, tanpa terasa penduduk bar uterus berdatangan sehingga lembah panulisan yang sedianya merupakan hutan belantara, kini berubah menjadi suatu perkampungan yang mengsankan. Rumah panggung beratap ilalang, berdiri ditengah perladangan dilengkapi lumbung padi yang penuh berisi, diligkung pagar bamboo berlapis sebagai alat penghubung antar petak. Suara lesung silih bersautan setiap kali mereka menumbuk padi bergema menerobos hutan belantara dan bukit yang berada disekelilingnya.


Dibalik semua itu tentu saja dengan makin banyaknya penduduk baru berdatangan dari berbagai daerah yang mempunyai adat yang berbeda, akan menimbulkan masalah baru. Tanpa kehadiran seorang pemimpin yang terpercaya, tangguh, ulet serta bijaksana, sulitlah untuk mempertahankan kelestarian budaya yang teleh mereka rintis dengan susah payah selama bertahun-tahun. Kebutuhan adanya seorang pemimpin, kian hari kian dirasakan penduduk yang senantiasa mendambakan keakraban, keadilan dan ketentraman.


Maka pada suatu hari sekitar tahun 1795, berkumpulah semua penduduk dihalaman rumah Ki Astramanggala, untuk mengadakan musyawarah. Tampil sebagai pemimpin musyawarah adalah Ki Jayadiwangsa dari Cipondoh, yang langsung meminta pendapat siapakah yang pantas memimpin.


Ki Jayadiwangsa menyodorkan seorang tokoh bernama Ki Astramanggala yang dipandang pantas menjadi pemimpin, dan spontan mendapat persetujuan dari semua penduduk. Ki Astramanggala diminta menjadi Kokolot Lembur atau kepala adat.


Kepercayaan masyarakat yang dilimpahkan kepadanya, diterima dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, namun demikian selaku orang yang berbudi luhur serta rendah hati, Ki Astramanggala masih merasakan banyak kekurangan serta kelemahan pada dirinya. Sehingga demi mencapai tujuan bersama, beliau sangat mengharapakan kerja sama yang baik dari segenap lapisan masyarakat.


Disamping itu Ki Astramanggala meminta tegur sapa dari warganya manakala terdapat hal-hal yang dianggap kurang berkenan di hati masyarakat. Permintaanya disanggupi dan saking girangnya perasaan penduduk atas kesediaan Ki Astramanggala menjadi pemimpin, banyak yang menari dan berjingkrak-jingkrak.


Pada kesempatan itu pula Ki Jayadiwangsa sebagai pembantu utama kokolot lembur. Sangatlah beralasan karena sebenarnya sudah sejak lama Ki Astramanggala dan Ki Jayadiwangsa memiliki hubungan yang erat sekali, dimana keduanya adalah murid dari Embah Mayasinga. Mereka berdua memang banyak kesamaan, baik masalah ilmu ketangkasan dan wataknya, yang membedakan hanyalah umur, dimana Ki Astramanggala lebih tua dari Ki Jayadiwangsa.


Sebagai suatu gambaran betapa eratnya hubungan keduanya, apabila ada Ki Astramanggala maka disitupula terdapat Ki Jayadiwangsa. Keterpaduan pemikiran keduanya merupakan suatu kekuatan yang tidak dapat tergoyahkan manakala mendapat haling rintang dalam mewujudkan cita-cita bersama menuju kehidupan yang gemah ripah, loh jinawi, tata tentrem, kerta raharja.


print this page Print disini


Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Menjadi Kokolot Lembur Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Menjadi Kokolot Lembur Reviewed by Urang Kampung on 15.50 Rating: 5