Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Memperkuat Pertahanan Segara Anakan

Sejarah Panulisan - Bertahun – tahun lamanya penduduk hidup dalam ketentraman, kedamaian, dan saling pegertian tanpa adanya suatu kejadian yang berarti, di bawah pimpinan Ki Astramnggala.

Sedangkan Panulisan sendiri saat itu seolah-olah masih merupakan daerah tak bertuan, walaupun sebenarnya hanya terhalang lebih kurang delapan kilometer kesebelah utara, terdapat suatu Kadipaten, yaitu Kadipaten Dayeuhluhur. Yang pada saat itu diperintah oleh Raden Tumenggung Prawiranegara putra dari Ngabehi Wiradika II, dan masih keturunan Gagak Ngampar yang pemerintahannya berpusat di Datar, namun sama sekali tidak ada hubungan dengan pemerintahan Panulisan.


Walaupun demikian tidak berarti bahwa Panulisan tidak dikenal oleh daerah lain. Keharuman nama Ki Astramanggala tidak hanya sampai di Dayeuhluhur, tetapi sampai juga di Wanareja bahkan sampai ke Kadipaten Donan yang saat itu diperintah oleh Raden Kertarana yang berkedudukan di Congot Wetan.


Sehingga tidak mengherankan apabila pada suatu ketika di awal tahun 1801, Ki Astramanggala mendapat panggilan dari Kadipaten Donan. Yaitu untuk ikut serta mmperkuat barisan pertahanan pasukan Donan dalam rangak menumpas serta menghadapi serangan bajak laut yang senantiasa membuat onar di daerah Segara Anakan.


Bukan hanya Ki Astramanggala saja yang mendapat panggilan, melainkan banyak pula tokoh sakti dari berbagai daerah, ikut serta memperkuat barisan pertahanan. Sedangkan Ki Astramanggala sendiri, sesaat menjelang keberangkatannya, terlebih dahulu mewakilkan segala tugas serta tanggung jawabnya selaku kokolot lembur kepada Ki Jayadiwangsa, tak lupa juga menyempatkan diri member pesan kepada warganya yang telah berkumpul untuk mengantar keberangkatannya. Istrinya yang pada waktu itu dalam keadaan hamil muda Nampak berlinang air matanya tatkala suaminya berpamitan.


Keberangkatannya diiringi do’a restu serta cucuran air mata semua warga. Untunglah Ki jayadiwangsa yang bijaksana, segera menghibur mereka dengan ucapan-ucapan yang menggugah semangat. Ia berkata bahwa kepergian Ki Astramanggala adalah tugas suci yang bersifat sementara, dan niscaya suatu ketika akan kembali berkumpul dengan warga Panulisan.


Sesampainya di Congot Wetan, Ki Astramanggala langsung bergabung dengan tokoh lainnya di bawah pimpinan Raden Rangga Kertarana. Himpunan tokoh itu merupakan paduan kekuatan tokoh silat kenamaan, sehingga terwujudlah suatu kekuatan yang diandalkan.


Dalam kurun waktu berbulan-bulan beberapa kali terjadi pertempuran dengan para bajak laut, dan setiap kali pasukan Raden Rangga Kertarana bisa mnghancurkannya. Lama setelah pengahncuran terakhir, daerah Segara Anakan menjadi aman tentram, tak ada lagi kerusuhan dan serangan dari bajak laut. Para nelayan kembali melaut, begitu pula dengan petan sibuk dengan pekerjaan ladangnya.


Dendang ria para nelayan yang berhasil mngumpulkan ikan tangkapannya, kembali mengalun dibawa angin laut dan menghilang ditelan ombak. Peristiwa yang lalu sudah mreka lupakan. Tidak terlintas di benak mereka, bahwa pada suatu saat kejadian itu bisa terulang kembali. Dan memang demiakianlah umumnya sifat dari manusia.


Sampai pada suatu pagi disekitar tahun 1801, saat prajurit Raden Rangga telah berangkat ketempat kerjanya, tanpa diduga sebelumnya datanglah serangan bajak laut dengan kekuatan lebih kurang 250 orang yang konon berasal dari Borneo dan Selebes, dan menyerang pertahanan Congot Wetan. Tentu saja serangan mendadak ini membuat pasukan kalang kabut dan tak dapat berbuat banyak apalagi member perlawanan.


Benteng pertahananpun dapat dihancurkan para pembajak. Para prajurit banyak yang terbunuh, sedangkan yang masih hidup berusaha menyelamatkan diri, dengan memasuki hutan di daerah pedalaman. Konon Raden Rangga Kertarana tertangkap oleh para bajak laut, lalu dibunuh serta badannya dipotong-potong menjadi beberapa bagian, dan jenajahnya dimakamkan didaerah Donan.

Sejak peristiwa itu Ki Astramanggala tidak bergabung lagi dengan sisa pasukan melainkan kembali pulang ke Panulisan, yang terlebih dahulu menyempatkan diri menghadap pejabat di Wanareja. Segala kejadian yang telah dialaminya secara detail dilaporkan, sehingga mereka merasa terharu.


Selesai menghadap pejabat di Wanareja, Ki Astramanggala pulang ke Panulisan dan disambut oleh masyarakat serta di beri julukan Ki Jagara, sehubungan telah melaksanakan tugas menjaga segara. Sebagai imbalan atas andil besar yang telah diberikan Ki Jagara terhadap pemerintah maka dijadikanlah Panulisan sebagai sebuah desa oleh pejabat di Wanareja, serta beberapa hari kemudian disyahkanlah Ki Jagara sebagai Kepala Desa yang pertama. Penunjukan Ki Jagara sebagai kepala desa disambut gembira oleh masyarakat Panulisan.


Satu-satunya putra Ki Jagara yang pada waktu ditinggalkan masih dalam kandungan, kini sudah lahir dan dapat berlari-lari. Walaupun belum diberi nama oleh ibunya tapi hari demi hari tumbuhlah dengan sehatnya. Anak kecil itu kemudian diberi nama si Laut oleh ayahnya, sebagai kenangan Ki Jagara pernah bertugas di laut. Si Laut ini kemudian hari mempergunakan nama awal ayahnya, sehingga bergelar Ki Astra Laut.


print this page Print disini


Sumber : Buku Pemerintahan Desa Panulisan (1983)
Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Memperkuat Pertahanan Segara Anakan Sejarah Panulisan Jaman Ki Astramanggala Memperkuat Pertahanan Segara Anakan Reviewed by Urang Kampung on 16.05 Rating: 5