Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Wiradisastra (1927 – 1931)

Pada tahun 1927 ini merupakan awal kerja Ki Wiradisastra dalam memegang tampuk pemerintahan desa Panulisan. Beliau merupakan Kepala Desa yang ke X, yang berhasil terpilih menggantikan Ki Arsadinata. Pengalaman bekerja di desa sebagai Carik, merupakan pengalaman berharga yang dijadikannya sebagai landasan dalam bekerja. Karena itulah beliau dapat dengan mudah memimpin masyarakat yang jumlahnya semakin bertambah.

Tak lama setelah beliau menjabat, pembangunanpun mulai dilakukan diantaranya pelebaran jalan antara Moncolimo (tuan lawe) ke Peundeuyraweuy yang dulunya masih sempit, serta memasang batu. Sifat gotnong royong masyarakat pada waktu itu merupakan kunci sukses terselenggaranya pembangunan.

Selain itu dalam masalah struktur organisasi, belaiau mulai mengadakan perubahan diantaranya diangkatnya Ki Wikarta sebagai Baubau yang dulunya sebagai mandor pasar, sedangkan penggantinya ditunjuklah Ki Madsarip, sebagai tenaga Administrasi diangkatlah Harjasasmita sebagai Carik, dan untuk polisi desa ditunjuklah Ki Santarip dan Ki Natamanggala.

Kepala Kampung juga tak luput dari perubahan diantaranya Kepala Kampung Cimanggeng diganti oleh Ki Garnap kemudian diganti lagi oleh Ki Nalim dan selang dua tahun diganti lagi oleh Ki Santa. Kampung Pasirereng digantikan oleh Ki Markani, Kampung Cilubang dikepalai oleh Ki Marlani, kampung Ciawitali dikepalai oleh Ki Wira Soder, Kampung Cirungkun dikepalai oleh Ki Darpan, kampung Buniseuri dikepalai oleh Ki Atmareja yang tak begitu lama diganti oleh Ki Suminta. Dan kampung lainnya masih seperti dulu.

Pada awal tahun Ki Wiradisastra mendapat modal usaha dari Babah Ceng Yam penduduk kampung Siluman, desa Purwaharja. Dimana uang tersebut digunakannya untuk membeli sejumlah tanah yang kemudian digunakan untuk menanam sereh wangi yaitu di gunung Pasirereng dan gunung Pasirsadang dengan bekerja sam dengan Ki Sumarta. Dan Ki Sumartapun membeli tanah dipasirkebi dan blok makam atau sekarang dinamakan blok Cisereh. Untuk pabriknya sendiri terdapat di Cibarangbang. Akan tetapi setelah lama berproduksi terjadilah bencana banjir yang menghanyutkan seluruh minyak sereh yang telah diproduksi.

Sebagai akibat dari itu, pabriknya diserahkan kepada Ki Sumarta, sedangkan beliau setelah menitipkan pemerintahan desa kepada Baubau Wikarta dan Ki Jayangali, beserta anak istrinya pergi meninggalkan desa. Konon ia pergi ke daerah pesawahan yaitu termasuk kedalam wilayah priangan timur. Setahun kemudian karena Ki Wikarta merasa repot dengan tugas yang di embannya, mencari keberadaan Ki Wiradisastra, dan berhasil emmbujuknya pulang.

Pengaruh penjajahan Belanda kian terasa pula, persiapan kemerdekaanpun telah terdengar dimana-mana. Tak ketinggalan Ki Wiradisastrapun ingin segera mewujudkannya. Maka ia berusaha mengumpulkan dana. Berkat kepandaiannya ia berhasil membuat uang palsu dari logam bekerjasama dengan rekannya, diantaranya Ki Sumarta dan haji dari Turulak. Akan tetapi hal ini cepat diketahui pemerintahan Hindia Belanda dan menangkapnya dan dijebloskan kepenjara. Akan tetapi karena buktinya tidak begitu kuat maka Ki Wiradisastra dikeluarkan kembali. Sehingga pada tahun 1931 beliau meningglkan desa demi keselamatan warganya dan sejak saat itu tentu saja jabatan Kepala Desa kosong.
Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Wiradisastra (1927 – 1931) Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Wiradisastra (1927 – 1931) Reviewed by Urang Kampung on 14.28 Rating: 5