Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Arsadinata (1915 – 1927)

Ki Arsadinata merupakan Kepala Desa panulisan yang ke IX, pada awal pemerintahannya Carik desa dipegang oleh Ki Sujud, akan tetapi karena beliau meninggal dunia maka ditariklah Ki Wiradisastra yaitu orang panulisan yang bekerja sebagai Carik di Desa Ciwalen untuk menjadi Carik di Desa Panulisan. Pada waktu itu Baubau dijabat oleh Ki Sanmarwi.

Perubahan yang terjadi ialah kepala kampung dimana secara berangsur-angsur mereka berhenti. Seperti Kepala Kampung Cilubang diganti oleh Ki Karama kemudian selang beberapa tahun diganti oleh Ki Arsadiwangsa, Kepala Kampung Ciawitali diganti oleh Ki Arhawi, Kepala Kampung Buniseuri digantikan oleh Ki Marlani, Kepala Kampung Panulisan diganti oleh Ki Jayangali, Kepala Kampung Muhara diganti oleh Ki Parajadiwangsa, Kepala Kampung Ciamanggeng diganti oleh Ki Karwija, dan Kepala kampung Peundeuy digantikan oleh Ki Sukatmaja. Pergantian Kepala Kampung ini tidak berjalan dalam satu kurun waktu melainkan beberapa kurun waktu.

Dalam masa pemerintahannya terdapat banyak perubahan yang terjadi misalnya pada tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda membuat jembatan besi lintas sungai Cijolang yang menghubungkan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Dan pada tahun 1921 dibangunlah Balai Desa diatas tanah pemberian dari H. Idris dan bersamaan dengan itu dibangun juga mesjid sebagai sarana ibadah. Yang kemudian dipanggilah dua orang kyai masing – masing bernama Astrangali Surya dan Markali.

Ki Arsadinata menyadari bahwa kebodohan merupakan penghambat kemajuan. Dengan di ilhami oleh bhakti nyata seorang Tuan Utter yang telah merintis dalam memberikan pelajaran menulis dan membaca, maka didirikanlah sekolah darurat pada tahun 1921, dengan menggunakan tempat di pendopo rumahnya. Dan selang beberapa tahun kemudian Asisten Wedana Wanareja bersimpati yang kemudian mendirikan sekolah yang terdiri dari dua lokal dimana tempat yang digunakan masih berada dikomplek Balai Desa. Kemudian utuk mengatasi masalah pengajar didatangkanlah Guru bernama Sukir Suatmaja dari Desa Madura. Kemudian selang beberapa tahun didatangkan pula seorang guru bantu dari daerah Rancah Jawa Barat bernama Sa’un Kartamiharja, dan setelah pensiun beliau digantikan oleh Abu Warno.

Dalam hal pertanian, hasil yang melimpah akan tetapi pemasaran yang susah maka dibangunlah sebuah pasar sederhana ditanah milik Ki Harjasasmita yang sebelumnya diadakan musyawarah dengan semua pamong desa. Setelah lama berdiri banyak pula pedagang pendatang yang kemudian menetap di Panulisan. Seperti orang Tionghoa yaitu Babah Akim, Babah Alim dan Babah Ahim.

Kemudian dalam hal pemerintahan pada akhir masa jabatannya Desa Panulisan ditarik ke wilayah Asistenan Dayeuhluhur, karena saat itu Dayeuhluhur ditarik masuk Residen Banyumas. Dan sejak saat itu hubungan dengan Wanareja terputus.

Sekedar untuk memberikan pamrih kepada para pamong desa yaitu selain dari pologoro lama yaitu berupa pajak dari warganya, maka Ki Arsadinata mengusahakan lahan bengkok di blok Sasagaran dengan luas sekitar 15,40 Ha. Selain itu beliau mengusahakan tanah di Blok Sengon untuk tanah pengangonan yang kemudian pada tahun 1925 dijadikan tanah bandadesa.

Ki Arsadinata pada tahun 1927 mengundurkan diri karena usianya yang telah tua.
Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Arsadinata (1915 – 1927) Sejarah Panulisan Masa Pemerintahan Ki Arsadinata (1915 – 1927) Reviewed by Urang Kampung on 14.29 Rating: 5